Pengolahan Data Hasil Nontes
Hasil dan proses belajar tidak hanya bisa diukur dengan melalui tes, namun juga bisa melalui alat-alat ukur belajar yang bukan tes seperti kuesioner, wawancara, observasi, dan skala. Pengolahan data hasil dari nontes, selain menggunakan cara-cara seperti pada pengolahan data yang menggunakan tes (terutama pada data yag bersifat interval dan dalam bentuk skor nilai) maka juga dapat menggunakan cara-cara lain seperti persentase, modus, peringkat, terutama bila hasil pengukuran berupa data nominal atau ordinal.
Data hasil nontes pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuan sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur data hasil nontes yaitu seperti jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner observasi skala atau sosiometri.
Berikut di bawah ini akan dijelaskan secara umum cara pengolahan data nontes :
a. Pengolahan Data Hasil Wawancara Dan Kuesioner
Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responden untuk setiap alternatif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tersebut. Sebaliknya, frekuensi yang paling rendah dapat ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban yang tidak menggambarkan pendapat kebanyakan responden.
Contoh : Melalui kuesioner ataupun wawancara diungkapkan pandangan siswa mengenai guru yang diharapkan dalam :
- Kemampuan mengajar
- Hubungan dengan siswa
Kuesioner atau wawancara diajukan kepada 40 siswa dengan pertanyaan sebagai berikut :
- Guru yang saya harapkan adalah guru yang :
a. Menguasai bahan pelajaran atau pandai dalam bidang ilmunya.
b. Cara menjelaskan bahannya dapat saya pahami sekalipun tidak begitu pandai.
c. Pandai dalam bidang ilmunya dan dapat menjelaskannya kepada siswa dengan baik.
- Pada waktu mengajarkan bahan pelajaran :
a. Sebaiknya dimulai dari yang umum, kemudian dibahas secara khusus.
b. Sebaiknya dimulai dari yang khusus, kemudian menuju kepada yang umum.
c. Dimulai dari mana saya asal dijelaskan secara sistematis.
- Menurut pendapat saya, hubungan guru dengan siswa di dalam kelas:
a. Harus menjaga jarak agar tidak kehilangan wibawa.
b. Tidak perlu menjaga jarak asal dalam batas-batas pendidikan.
c. Mencerminkan hubungan orang tua dengan anak-anaknya.
- Untuk membina hubungan guru dengan siswa, sebaiknya guru berusaha dalam:
a. Memahami pribadi para siswanya.
b. Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa.
c. Bergaul dengan siswa dalam berbagai kesempatan.
Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung frekuensi jawaban seluruh siswa terhadap setiap pertanyaan tersebut. Misalnya hasil pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel (1) Frekuensi Jawaban Siswa Mengenai Masalah
Kemampuan Guru Mengajar (n=40)
|
Masalah yang diungkapkan |
F |
% |
Peringkat jawaban |
|
1. Kemampuan mengajar 1.1 Kemampuan mengajar
1.2 Prosedur mengajarkan bahan pelajaran
|
4 12 24
10 6 24 |
10 30 60
25 15 60 |
3 2 1
2 3 1 |
Cara lain dalam mengolah data di atas ialah dengan menggunakan chi kuadrat (x2). Rumus yang digunakan yaitu sebagai berikut :
Dalam chi kuadrat, yang dicari ialah adakah perbedaan yang berarti di antara frekuensi hasil; pengamatan atau jawaban nyata (fo ) dengan frekuensi jawaban yang diharapkan ( fe ). Jika ada perbedaan, artinya jawaban tersebut betul-betul adanya, bukan karena faktor kebetulan.
Contoh :
Kita ambil jawaban nomor 1 dari tabel (1) di atas!
|
Jawaban |
fo |
fe |
|
|
a. Menguasai bahan, b. Mampu menjelaskan bahan, c. Menguasai bahan dan mampu menjelaskannya |
4 12 24 |
13,3 13,3 13,3 |
6,00 0,13 8,61 |
|
X2 = 15,24 |
|||
Keterangan :
· Fe = 13,3 diperoleh dari 40 / 3 = 13 3
· Harga x2 = 15,24 kemudian dibandingkan dengan harga tabel untuk tingkat kepercayaan 0,05 dengan derajat bebas 3-1 (alternatif jawaban = 3)
· Harga x2 dalam tabel = 5,99.
Dengan demikian x2 = 15,24 > 5,99 sehingga perbedaan itu cukup berarti ini berarti bahwa interpretasi yang menyatakan bahwa guru yang diharapkan adalah guru yang menguasai bahan dan dapat menjelaskannya pada siswa adalah sah sebagai kesimpulan dari data tsb.
Tabel (2) Frekuensi Jawaban Siswa Mengenai
Hubungan Guru Dengan Siswa
|
Masalah yang diungkapkan |
f |
% |
Peringkat jawaban |
|
1. Hubungan guru-siswa 1.1 Sifat hubungan
1.2 Upaya membina hubungan
|
4 10 25
8 12 20 |
10 25 65
20 35 50 |
3 2 1
3 2 1 |
Dari jawaban diatas dapat ditafsirkan bahwa hubungan guru siswa dalam kelas harus mencerminkan hubungan orang tua dengan anaknya, dan untuk itu guru dituntut bergaul dengan para siswa dalam berbagai kesempatan. Dari contoh diatas, data diolah dengan cara mencari persentase jawaban yang paling banyak atau modus jawaban siswa. Persentase dihitung dengan rumus f/N x 100. N adalah banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan, dalam hal ini 40.
b. Pengolahan Data Hasil Observasi
Pengolahan data hasil observasi sangat bergantung pada pedoman observasinya, terutama dalam mencatat hasil observasi. Hasil observasi yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan-pernyataan sebagaimana adanya yang tampak dari perilaku yang diobservasi, diolah dengan melakukan analisis dan interpretasi seluruh hasil amatan tersebut. Dengan kata lain, dengan meng-unakan analisis kualitatif. Sudah barang tentu sifatnya subjektif, yakni dipengaruhi oleh pengamatannya.
Namun, ada pula observasi yang hasil pengamatannya diberi nilai atau disediakan skala nilai, misalnya dengan huruf A, B, C, dan D atau dengan angka 4, 3, 2, dan 1 yang tersebut bermakna sebagai skala nilai.
Contoh :
Tabel (3) Observasi Kemampuan Guru Dalam Mengajar
Nama guru : …………………….. Pendidikan : ………………
|
Aspek Yang Diamati |
Nilai Pengamatan |
|||
|
4 |
3 |
2 |
1 |
|
|
1. Penguasaan bahan 2. Kemampuan menjelaskan bahan 3. Hubungan dengan siswa 4. Penguasaan kelas 5. Keaktifan belajar siswa |
v
v |
v
v
v |
|
|
Pengamat : ………….
Dari contoh di atas, skor hasil observasi adalah:
3 + 4 + 3 + 4 + 3 = 17.
Nilai rata-rata untuk kelima aspek tsb adalah 17/5 =3,4. skor ini cukup tinggi sebab maksimum rata-rata atau skor maksimum untuk setiap aspek adalah 4 atau 20 untuk semua aspek (5 x 4). Skor ini bisa juga dikonversikan ke dalam bentuk standar 100 atau standar 10.
- Konversi ke dalam standar 100 adalah 17/20 x 100 = 85
- Konversi ke dalam standar 10 adalah 17/20 x 10 = 8,5
Jika dibuat interpretasi untuk setiap aspek, maka dapat disimpulkan bahwa guru tersebut sangat istimewa dalam hal kemampuan menjelaskan dan penguasaan kelas, sedangkan dalam penguasaan bahan, komunikasi dengan siswa dan dalam mengaktifkan siswa termasuk memuaskan.
c. Pengolahan Data Skala Penilaian Atau Sikap
Data hasil skala, baik skala penilaian maupun skala sikap yang berbentuk skor atau data interval, pengolahannya hampir sema dengan pengolahan data hasil observasi yang menggunakan skor atau nilai dalam pengamatannya. Dengan demikian, untuk setiap siswa yang diukur melalui skala penilaian atau skala sikap bisa ditentukan:
- Perolehan skor dari seluruh butir ditentukan.
- Skor rata-rata dari setiap pertanyaan dengan membagi jumlah skor oleh banyaknya pertanyaan.
- Interpretasi terhadap pertanyaan mana yang positif atau baik dan pertanyaan atau aspek mana yang negatif atau kurang baik.
Lebih jauh lagi data hasil skala penilaian dan skala sikap sebenarnya menyerupai data hasil tes, yakni diperolehnya data inerval dalam bentuk skor total untuk setiap siswa. Dengan demikian, dapat diolah seperti mengolah data hasil tes. Misalnya dicari nilai rata-rata atau simpangan baku, bergantung pada tujuan pengolahan data tersebut.
Uraian pengolahan data di atas terbatas pada hal-hal yang sederhana dengan maksud dapat dipraktekkan dalam tugas seharihari. Sudah tentu dalam pelaksanaannya diperhatikan ketentuanketentuan yang berlaku di sekolah, khususnya dalam sistem penilaian, baik dalam hal sistem pemberian angka maupun dalam menentukan batas kelulusannya. Hal ini perlu diingatkan karena dalam praktek di sekolah belum ada keseragaman.
DAFTAR RUJUKAN RANGKUMAN
Sudjana, D. N. (2013). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dr. Supriyadi, M. (2013). EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. Gorontalo : UNG Press Gorontalo.
Dr. Zulkifli Matondang, M. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Medan: Program Pascasarjana Unimed (Universitas Negeri Medan).

Komentar
Posting Komentar