Tes sebagai Alat Penilaian Hasil Belajar
A. HAKIKAT TES
Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinya piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh sesorang atau kelompok. Tes juga dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas yag direncanakan untuk memperoleh informasi tentang sarana atau atribut pendidikan yag setiap butir pertanyaan atau tugas mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar, dari hal tersebut dapat diartikan bahwa tes mempunyai wujud fisik yaitu berupa sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan atau tugas yang harus dikerjakan yang nantinya akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis jtertentu berdasarkan jawaban tertentu terhadap pertanyaan-pertanyaan atau cara dan hasil subjek dalam melakukan tugas-tugas tersebut (Azwar, 2010). Menurut Sudjana (2013) menjelaskan bahwa tes merupakan sebagai alat penilaian yang dapat diartikan sebagai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Pada umumnya tes digunakan untuk mengukur dan menilai hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif yang berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Jadi, dari penjelasan diatas tentang hakikat tes adalah alat pengukur pengumpul data berupa sejumlah pertanyaan atau perintah yang memerlukan tanggapan dari testee untuk mengukur tingkat kemampuan, prestasi dan penguasaan yang dimiliki oleh testee.
B. JENIS-JENIS TES
Tes sebagai alat ukur dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung pada segi atau alasan pembedaan penggolongan tersebut.
- Tes Berdasarkan Kegunaannya
a. Tes Diagnostik : Tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
b. Tes Formatif : Tes akhir atau post test yang diberikan pada akhir setiap program. Evaluasi formatif digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa setelah mengikuti suatu program tertentu. Umumnya, tes formatif disamakan dengan ulangan harian.
c. Tes sumatif : Tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Tes sumatif dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir caturwulan atau akhir semester.
- Tes Berdasarkan Pelaksanaan
a. Paper Based Test (PBT) : Bentuk tes yang dalam pelaksanaannya menggunakan kertas dan tulisan sebagai alat bantu, baik untuk soal tes maupun jawaban tes.
b. Oral Based Test (OBT) : Bentuk tes yang pelaksanaannya dilakukan secara langsung. Salah satu bentuk tes lisan yaitu wawancara atau tatap muka secara langsung antara penguji dengan orang yang diuji.
c. Computer based test (CBT) : Tes yang dalam pelaksanaannya menggunakan alat bantu computer. Hal yang membedakan dengan tes tertulis maupun lisan terletak pada teknik penyampaian butir soal yaitu naskah soal maupun lembar jawaban menggunakan komputer. Sistem skoring atau koreksi langsung dilakukan oleh komputer.
- Tes Berdasarkan Aspek Psikis
a. Tes Intelegensi (Intellegency Test) : Tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
b. Tes kemampuan (Aptitude Test) : Tes yang dilaksanakan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh tester.
c. Tes Sikap (Attitude Test) : Jenis tes yang digunakan untuk mengungkap kecenderungan seseorang dalam melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu maupun obyek tertentu.
d. Tes Kepribadian (Personality Test) : Tes yang bertujuan mengungkap ciri khas dari seseorang berdasarkan sifat lahiriah.
e. Tes Hasil Belajar atau Pencapaian (Achievement Test) : Tes yang digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar. Tes hasil belajar digunakan untuk pengukuran dan penilaian hasil belajar berbentuk tugas atau perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga dapat dihasilkan nilai sebagai lambang tingkah laku atau prestasi.
- Tes Berdasarkan Pengajuan Pertanyaan Dan Pemberian Jawaban
a. Tes Tertulis (pencil and paper test) : Jenis tes dimana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soal dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawaban secara tertulis.
b. Tes Lisan (nonpencil and paper test) : Jenis tes dimana tester dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soal dilakukan secara lisan dan testee memberikan jawaban secara lisan.
- Tes Berdasarkan Bentuk Respon
a. Verbal Test : Suatu tes yang menghendaki respon dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun tertulis.
b. Nonverbal test : Tes yang menghendaki respon dari testee berupa tindakan atau tingkah laku, sehingga respon yang dikehendaki terbentuk
- Tes Berdasarkan Sistem Penskoran
a. Tes tertulis bentuk uraian (Essay) : Tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban uraian, baik uraian secara bebas maupun uraian secara terbatas. Tes bentuk uraian ini, khususnya bentuk uraian bebas menuntut kemampuan murid untuk mengorganisasikan dan merumuskan jawaban dengan menggunakan kata-kata sendiri serta dapat mengukur kecakapan murid untuk berfikir tinggi yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan yang menuntut untuk memecahkan masalah, menganalisa, membandingkan, menyatakan hubungan masalah dan menarik kesimpulan (Sutomo dalam Asrul, 2015).
Dilihat dari keluasan materi yang ditanyakan, maka tes bentuk uraian ini dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu uraian terbatas (restricted respons items) dan uraian bebas (extended respons items). Contoh untuk masing-masing jenis tes ini dapat dilihat sebagai berikut:
1. Tes uraian dalam bentuk bebas atau terbuka.
Contoh: Coba sebutkan manfaat belajar penaksiran dalam kehidupan sehari-hari dan berikan contohnya.
2. Tes uraian dalam bentuk uraian terbatas.
Contoh : Toni akan memasukkan 21 kelereng merah dan 28 kelereng biru ke dalam kotak. Tiap kotak berisi kelereng merah yang sama banyak dan kelerengn biru yang sama banyak pula. Berapa banyak kotak yang diperlukan?. Berapa kelereng merah dan kelereng biru dalam setiap kotak?
Tes uraian sebagaimana dicontohkan di atas memiliki beberapa karakteristik, yaitu sebagai berikut :
1. Tes tersebut bentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang pada umumnya cukup panjang.
2. Bentuk pertanyaan atau perintah itu menuntuk kepada tester untuk memberikan penjelasan, komentar, penafsiran, membanding-kan, membedakan, dan sebagainya.
3. Jumlah soal butir uraiannya terbatas yaitu berkisar lima sampai dengan sepuluh butir.
4. Pada umumnya butir-butir soal uraian diawali dengan kata-kata, “uraikan”,…. “Mengapa”,….”Terangkan”,….”Jelaskan”.
Untuk penyusunan jenis tes bentuk uraian ada beberapa langkah yang dapat di jalani atau ditaati yaitu sebagai berikut :
1. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian diusahakan agar soal tersebut dapat mencakup ide-ide pokok dari materi pelajaran yang telah diajarkan.
2. Untuk menghindari tumbuhnya perbuatan curang oleh tester misalnya, menyontek dan bertanya kepada tester yang lainya hendaknya sesuatu kalimat pada soal berlawanan dengan buku pelajaran.
3. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan itu jangan dibuat seragam melainkan bervariasi. Contohnya : Jelaskan perbedaan antara …dengan .. dan kemukakan alasannya… mengapa..
4. Kalimat soal yang disusun hendaklah ringkas dan padat.
5. Sebelum tester mengerjakan soal hendaklah seorang tester mengemukakan cara mengerjakannya, contoh, “Jawaban soal harus ditulis di atas lembaran jawaban dan sesuai dengan urut nomor.
Sebagaimana jenis tes lainnya, tes uraian juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tes uraian diantaranya adalah :
1. Bagi guru, menyusun tes tersebut sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama.
2. Si penjawab mempunyai kebebasan dalam menjawab dan mengeluarkan isi hati dan buah pikirannya.
3. Melatih mengeluarkan pikiran dalam bentuk kalimat atau bahasa yang teratur.
4. Lebih ekonomis, hemat karena tidak memerlukan kertas terlalu banyak untuk membuat soal tes, dapat didektekan atau ditulis dipapan tulis.
Sedangkan kelemahan tes uraian yakni:
1. Tidak atau kurang dapat digunakan untuk mengetes pelajaran yang luas atau banyak sehingga kurang dapat menilai isi pengetahuan siswa yang sebenarnya.
2. Kemungkinan jawaban dan keterangan sifatnya menyulitkan penjelasan pengetesan dalam mensekornya.
3. Baik buruknya tulisan dan panjang pendeknya jawaban yang sama mudah menimbulkan evaluasi dan perskoran (scorting) yang kurang objektif.
b. Tes hasil belajar Bentuk Objektif : Disebut objektif karena cara pemeriksaannya yang seragam terhadap semua murid yang mengikuti sebuah tes. Tes objektif juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (short answer test), dan salah satu tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items) yang dapat dijawab oleh tester dengan jalan memilih salah satu (atau lebih), di antara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing masing items atau dengan jalan menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat-tempat yang disediakan untuk masing-masing butir yang bersangkutan.
Terdapat beberapa jenis tes bentuk objektif, misalnya: bentuk melengkapi (completion test), pilihan ganda (multifle chois), menjodohkan (matching), bentuk pilihan benar-salah (true false). Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut.
1. Melengkapi (Completion Test) : dikenal dengan istilah melengkapi atau menyempurnakan. Salah satu jenis objektif yang hampir mirip sekali dengan tes objektif fill in. Letak perbedaannya ialah pada tes objektif bentuk fill in bahan yang dites itu merupakan satu kesatuan. Sedangkan pada tes objektif bentuk completion tidak harus demikian. Contoh : Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar dan tepat. Faktor prima dari bilangan 15 adalah ......…
Test Completion memiliki kebilihan yaitu seperti ; test ini amat mudah dalam penyusunannya, jika dibanding dengan tes objektif bentuk full in, tes objektif ini lebih menghemat tempat atau kertas, bahan yang disajikan dalam tes ini cukup beragam, tes ini juga dapat digunakan untuk mengukue berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkapkan taraf pengenalan atau hapalan saja. Sedangkan kekurangan tes completion ini yaitu yang terlihat pada umumnya tester atau percobaan tes menggunakan atau hanya mengungkapaapkan daya ingat atau aspek hapalan saja, dan juga dapat terjadi butir-butir item dari tes model ini kurang teleban untuk disajikan, serta dikarenakan pembuatannya yang mudah makan seringkali kurang teliti dan hati-hati dalam membuat soal.
2. Tes Objektif Bentuk Multiple Choice Test (Pilihan Ganda) : merupakan tes objektif dimana masing-masing tes disediakan lebih dari kemungkinan jawaban, dan hanya satu dari pilihan-pilihan tersebut yang benar atau yang paling benar. Penyusunan tes dalam bentuk multiple choice yaitu sebagai berikut :
a. Hendaknya antara pernyataan dalam soal dengan alternatif jawaban terdapat kesesuaian.
b. Kalimat pada tiap-tiap butir soal hendaknya dapat disusun dengan jelas.
c. Sebaiknya soal hendaknya disusun menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
d. Setiap butir pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu masalah, meskipun masalah itu agak kompleks.
Contoh tes dalam bentuk multiple choice yaitu sebagai berikut : “Hasil pembagian ¾ : ½ adalah:
a. 1 ½
b. 2 ½
c. 3 ½
d. 4 ½
3. Tes Objektif Bentuk Matching (Menjodohkan) : Test bentuk ini sering dikenal dengan istilah tes menjodohkan, tes mencari pandangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan. Ciri-ciri tes ini yaitu terdiri dari satus seri pertanyaan dan satu seri jawaban dan tugas tesnya adalah untuk mencari dan menetapkan jawaban-jawaban yang telah tersedia sehingga dengan cara menjodohkan atau mencococokkan dengan jawaban dan pernyataan yang sesuai maka diperolehlah jawaban yang benar. Contoh tes tersebut yaitu sebagai berikut :
|
1. ———Sholat sunnah yang dilaksanakan pada tiap malam bulan Ramadhan 2. ———Sholat Sunnah yang dilakukan sewaktu masuk mesjid. 3. ———Sholat Sunnah yang dilakukan guna meminta hujan. |
A. Istisqo B. Tarawih C. Rawatif D. Mutlak
|
Test bentuk matching memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari tes ini adalah .
1) Pembuatan mudah.
2) Dapat dinilai dengan mudah dan cepat dan objektif.
3) Apabilas tes jenis ini dibuat dengan baik, maka faktor merubah praktis dapat dihilangkan
4) Test ini sangat berguna untuk menilai berbagai hal.
Kelemahan dari test matching yakni :
1) Matching test cenderung lebih banyak mengungkap aspek hapalan atau daya ingat.
2) Karena mudah disusun, maka tes jenis ini kurang baik acap kali dijadikan “pelarian” bagi pengajaran, yaitu kalau pengajar tidak sempat lagi untuk membuat tes bentuk lain.
3) Karena jawaban yang pendek, maka tes ini kurang baik untuk mengevaluasi pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
Adapun cara penyusunan test matching yaitu diantaranya sebagai berikut; butir-butir dari soal yang dituangkan dalam bentuk matching testjumlahnya tidak boleh kurag dari 10 soal dan lebih dari 15 soal, daftar tabel yang berada di sebelah kiri hendaknya dibuat lebih panjang daripada daftar tabel sebelah kanan karena berisi pernyataan yang dicari jawabannya oleh tester, dan usahakanlah agar petunjuk tentang cara mengerjakan soal dibuat seringkas dan setengah mungkin.
c. Test Tindakan (Performance Test) : tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan di bawah pengawasan penguji yang akan mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan tentang kualitas hasil belajar yang dihasilkannya atau ditampikannya. Peserta didik bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan ditanyakan. Tes tindakan dapat digunakan untuk menilai kualitas suatu perkerjaan yang telah selesai dikerjakan oleh peserta didik, termasuk juga keterampilan dan ketepatan menyelesaikan suatu pekerjaan, kecepatan dan kemampuan merencanakan suatu pekerjaan. Tindakan atau unjuk kerja yang dapat dinilai seperti: memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/deklamasi, menggunakan peralatan laboratorium, dan mengoperasikan suatu alat. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan unjuk kerja. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
C. FUNGSI TES
- Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.
- Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.
Fungsi (1) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi (2) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.
D. DASAR-DASAR PENYUSUNAN TES HASIL BELAJAR
Dasar-dasar penyusunan tes hasil belajar adalah sebagai berikut:
1. Tes hasil belajar harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan instruksional yang tercantum di dalam kurikulum yang berlaku.
2. Tes hasil belajar disusun sedemikian rupa sehingga benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari.
3. Pertanyaan tes hasil belajar hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan.
4. Tes hasil belajar hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri, karena tes dapat disusun untuk keperluan pre tes dan post tes, masteri tes, tes diagnostik, tes prestasi, tes formatif, dan sumatif.
5. Tes hasil belajar disesuaikan dengan pendekatan pengukuran yang dianut apakah mengacu pada kelompok (norm reference, standar relatif) ataukah mengacu pada patokan tertentu (creterion reference, standar mutlak).
6. Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
E. KARAKTERISTIK TES YANG BAIK
Tes yang baik harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
1. Validitas (abash/shahih) : Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, shahih, atau secara absah telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur atau mengungkap hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik setelah peserta didik menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
2. Reliabilitas (keajegan/kemantapan) : Sebuah tes dinyatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulang kali terhadap subyek yang sama menunjukkan hasil yang tetap sama atau bersifat ajeg dan stabil.
3. Objektivitas : Tes hasil belajar dikatakan objektif apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan menurut apa adanya. Berdasarkan segi materi tes, istilah apa adanya bermakna bahwa materi tes tersebut diambil atau bersumber dari materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan. Sedangkan dari segi pemberian skor dan penentuan nilai hasil tes, istilah apa adanya mempunyai maksud pekerjaan koreksi, pemberian skor, dan penentuan nilainya terhindar dari unsur-unsur subyektivitas pada diri penyusun tes.
4. Praktikabilitas (praktis) : Tes dapat dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya. Menurut Suharsimi Arikunto, tes yang praktis adalah tes yang memenuhi tiga kriteria, yaitu: (a.) mudah dilaksanakan, tidak menuntut peralatan banyak dan memberi kebebasan pada siswa untuk mengerjakan bagian yang mudah terlebih dahulu, (b.) mudah pemeriksaannya, tes tersebut dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya, (c.) dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan atau diawali oleh orang lain.
Daftar Rujukan Rangkuman
Sudjana, D. N. (2013). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Drs. Asrul, M. R. (2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Citapustaka Media.
Anzwar, Saifuddin. 1987. Tes prestasi. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Komentar
Posting Komentar